Beranda > Nilai Mahasiswa, Opini > Simbol yang Hancur

Simbol yang Hancur


Masyarakat mungkin tidak akan lupa dengan gempa yang mengguncang kota Padang pada 30 September 2009 silam. Guncangan berkekuatan 7,6 skala richter membuat kota Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya luluh lantah bahkan getarannya terasa sampai ke Provinsi Jambi dan negara tetangga. Berbagai persepsi pun muncul dari kalangan masyarakat. Ada yang berpandangan bahwa peristiwa tersebut merupakan suatu gejala alam yang biasa terjadi, karena Sumatera Barat berada di antara pertemuan dua lempeng benua besar, lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia dan patahan semangko (Wikipedia). Di sisi lain, ada juga yang beranggapan gempa tersebut merupakan teguran dari Allah atas tingkah laku manusia yang tidak lagi berjalan sesuai dengan aturan agama. Kedua pandangan tersebut adalah realita yang kita rasakan. Alam berjalan sesuai dengan sunnatullah.

Peristiwa ini telah berlalu 1,5 tahun. Walaupun masih ada duka yang terselip di sebagian keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat, instansi pemerintahan, lembaga-lembaga, dan kampus-kampus pun mulai berbenah. Bantuan menyerbu Sumatera Barat dari berbagai daerah di nusantara dan luar negeri.

Namun ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita. Seperti simbol yang ditinggalkan alam melalui kejadian naas itu. Alam menjadi media dari pesan yang disampaikan Allah.

Sesekali berjalanlah ke kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Ketika anda akan memasuki Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) terbesar di Sumatera Barat ini, akan terlihat gerbang kampus dengan tulisan “KAMPUS IAIN IMAM BON”. Tak jauh dari gerbang akan terlihat dua simbol utama dari kampus yang sebagian mahasiswanya menyebut islami, gedung rektorat dan masjid.

Gedung Rektorat Sebagai Simbol Kepemimpinan
Sejak gempa 30S terjadi, gedung rektorat IAIN Imam Bonjol tidak terpakai lagi. Karena memang tidak layak lagi untuk digunakan. Tapi sampai saat ini gedung tersebut belum juga diperbaiki. Dibiarkan saja terbengkalai seperti rumah gadang yang tak berpenghuni lagi. Rektorat yang menyimbolkan kepemimpinan di kampus ini tidak lagi tertata dengan baik. Semuanya berantakan menjadi puing yang membentuk kelompok-kelompok dalam satu institusi ini. Beberapa catatan hitam telah terlukis di benak civitas akademika IAIN, bahkan sampai ke kalangan masyarakat umum.

Di internal kampus, birokrasi tidak lagi berjalan dengan baik. Seringkali mahasiswa mengeluh setelah berurusan dengan bagian akademik. Persoalannya hanya dua; pelayanan yang kurang baik dan sistem yang tidak bagus. Sebuah contoh kecil saat proses pendaftaran ulang mahasiswa. Ratusan mahasiswa berdesakan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Padahal di gerbang kampus tertulis jalur khusus untuk laki-laki dan perempuan. Ini menandakan laki-laki dan perempuan tidak boleh berjalan berdampingan. Tapi kenapa saat proses daftar ulang mahasiswa tidak dibentuk jalur khusus pula. Sedangkan mahasiswa lebih butuh jalur khusus saat melakukan pendaftaran ulang dari pada jalur khusus masuk kampus. Setelah antri beberapa jam dengan keringat membasahi tubuh, merekapun tak mendapatkan layanan yang baik bahkan ada yang dibentak.

Ini baru contoh kecil dari simbol yang ditinggalkan alam terhadap kampus Islami. Belum lagi masalah lainnya seperti polemik uang Peningkatan Kualitas Akademik, persoalan nilai mahasiswa, seluruh ketua jurusan yang mogok, dan nasib eks mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) yang terkatung-katung karena jurusan mereka tidak ada izin untuk beroperasi. Bahkan mereka yang telah selesai skipsinya hanya bisa mengurut dada karena tidak jadi diwisuda. Mahasiswa gelisah, merekapun dipindahkan ke fakultas Tarbiyah. Proses transfer inipun tidak berjalan dengan baik. Seorang teman bercerita kepada saya tentang kepahitan hidupnya di kampung. Tapi lebih pahit saat mendapatkan kata-kata yang tidak enak saat mengurus transfernya ke fakultas Tarbiyah, “Istirahat se lah kuliah lai”. Padahal ini bukanlah kesalahan mahasiswa, mereka adalah korban. Sepertinya karyawan perlu lagi belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP), atau kembali belajar Budaya Alam Minangkabau (BAM), kato nan ampek.

Sedangkan di eksternal kampus, IAIN mempunyai citra yang kurang bagus di mata masyarakat. Dan tidak tanggap terhadap isu-isu yang melanda Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Seperti polemik Ahmadiyah, IAIN tidak begitu tanggap terhadap persoalan ini. Sebagai PTAI terbesar di Sumatera Barat, seharusnya IAIN bisa meluruskan persoalan yang berkaitan dengan agama Islam. Supaya tidak ada lagi keresahan masyarakat Sumatera Barat yang umunya beragama Islam. Hal ini tentu tidak terlepas dari apa yang terjadi di internal kampus yang berdampak kepada eksternalnya. Kalau di dalam sudah sakit tentu saja wajah akan kusam dan pucat.

Retaknya gedung rektorat meninggalkan bekas terhadap kepemimpinan di kampus IAIN Imam Bonjol.

Mesjid Sebagai Sarana Ibadah dan Simbol Islam
Walapun mesjid kampus masih digunakan sebagaimana layaknya tempat ibadah, namun rasa khawatir masih terbesit ketika berada dalam bangunan yang retak akibat gempa 30S lalu. Ditambah lagi dengan keadaan tempat berwudhu’ yang kotor dan bau pesing membuat kita tidak nyaman.

Hal ini menandakan kita sudah mulai meninggalkan hal-hal kecil yang berdampak besar. Seperti yang kita ketahui, kebersihan itu bahagian dari iman. Sebagai kampus Islami, IAIN sampai saat ini belum menerapkan hal yang demikian. Lihat saja di sudut-sudut kampus, masih banyak tumpukan sampah. Masyarakat sekitar kampuspun sepertinya bebas mengembalakan binatang ternaknya di dalam lingkungan kampus.

Di sisi lain, sikap dan tingkah laku mahasiswa apalagi karyawan tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Seperti pertengkaran mulut antara mahasiswa dan karyawan dalam urusan birokrasi bahkan ada yang berakhir dengan adu otot. Sangat ironis hal demikian terjadi di kampus yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Moral di kampus ini sangat merosot sekali dari apa yang diharapkan.

Retaknya mesjid sebagai sarana ibadah beriringan dengan robohnya nilai-nilai Islami dan moral di kampus IAIN Imam Bonjol.

Alam Takambang Jadi Guru
Alam takambang jadi guru, mungkin falsafah ini yang jarang kita aplikasikan dalam kehidupan. Bahwa alam adalah sumber pengetahuan di Minangkabau. Sebagai orang Minangkabau, atau paling tidak kampus yang bertempat di wilayah Minangkabau. Sudah seharusnya kita belajar dari alam. Aturan dan norma di Minangkabau banyak mengambil ikhtibar dari alam. Tapi mengapa kita tidak bisa belajar dari falsafah tersebut. Sedangkan tidak sedikit dosen di IAIN yang menyandang gelar datuak.

Rusaknya dua simbol utama di kampus IAIN Imam Bonjol tidak begitu menjadi perhatian sebagian masyarakat dan pimpinan kampus. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Imambonjol pernah menggelar upacara peringatan satu tahun gempa Sumbar, pada tanggal 30 September 2010 lalu. Seperti yang dilansir http://www.suarakampus.com, upacara ini diiringi dengan pengibaran bendera hitam setengah tiang dan penaburan bunga sebagai simbol duka mahasiswa. Bukan itu saja upacara ini juga salah satu bentuk sindiran terhadap IAIN. Karena setelah satu tahun gempa belum begitu terlihat perbaikan di sektor pembangunan.

Manusia sebagai bagian dari alam sudah sepatutnya menjadi perhatian manusia lainnya. Apalagi manusia sebagai seorang pemimpin. Jika tidak bisa belajar kepada alam, maka alam itu yang akan mempelajarinya. Maka wajar saja jika umpatan keluar dari mulut alam itu sendiri.

Pemilihan rektor tahun ini mudah-mudahan akan “menghapus” simbol-simbol lama tersebut. Tentu saja akan timbul simbol baru. Sebab alam selalu berkembang dan menyimpan banyak misteri yang belum kita ketahui. Teruslah belajar kepada alam sebab alam takambang jadi guru.

Penulis: Adil Wandi
http://adilwandi.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: