Beranda > Opini > Merakit Bom Buku

Merakit Bom Buku


Meledak dan menghancurkan. Mungkin itu yang terbayang dalam fikiran kita tentang bom. Karena bom bisa menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Bom bisa membunuh orang-orang, meruntuhkan gedung bahkan merubah peradaban suatu daerah. Akhir-akhir ini Indonesia disibukan dengan teror bom, salah satunya bom buku. Tidak terkecuali Sumatera Barat yang selama ini dikenal dengan wilayah yang aman juga telah dihantui oleh teror bom.

Di negeri kita ini sebenarnya telah lama berlangsung proses perakitan bom buku. Sebagian bom itu telah meledak dengan radius yang sangat luas. Dan sebagian lainnya masih dalam proses perakitan. Namun bukan bom yang meledak di dalam buku tapi buku itu sendiri yang menghasilkan ledakan di kepala anda.

Buku, walaupun tidak berisi bahan peledak namun bisa meledak melebihi dahsyatnya bom yang menghancurkan Hirosima dan Nagasaki. Dia akan meledakan pikiran di dalam kepala anda dan menimbulkan ide-ide baru. Semakin banyak buku yang anda baca maka semakin luas radius ledakannya. Dan ledakan itu akan menghacurkan ketidaktahuan dan ketertinggalan anda.

Namun ada yang harus kita pelajari lagi dari perakitan bom buku ini, yaitu bagaimana supaya ledakannya bisa menghancurkan dengan rata. Persoalannya selama ini adalah bom yang dirakitan personal tidak mengasilkan ledakan yang bagus dan tidak rata. Tidak sedikit pula rakitan kelompok yang mengalami hal yang sama. Banyak orang yang pintar karena buku namun tidak bisa membagi ilmunya kepada yang lain. Bahkan dalam suatu lingkungan, belum tentu seorang profesor bisa meledakan pemikirannya di lingkungannya sendiri yang akan menghancurkan kemiskinan pengetahuan. Sebab kemiskinan pengetahuan lebih berbahaya dari kemiskinan materi.

Sangat ironis sekali rasanya kita bisa meledak sendiri tanpa ada dampak terhadap lingkungan kita. Padahal keberhasilan sebuah ledakan itu bukanlah dinilai dari seberapa besar bunyi yang dihasilkan oleh ledakan tersebut. Tapi berapa banyak ia bisa menghancurkan. Tentu saja menghancurkan kebodohan dirinya sendiri dan orang disekitarnya. Sebab eksistensi seseorang dalam lingkungannya bukan dari berapa banyak ia bicara. Namun bagaimana ia bisa mempengaruhi dan membuat orang-orang di sekitarnya juga bisa merasakan dan menikmati menjadi seorang yang memilki ilmu. Dalam khotbah atau ceramah kita juga sering mendengar bahwa orang yang berguna itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Buku yang kita baca tidak akan selalu melekat di otak. Ibarat sebuah senapan, dia akan berkarat dan tidak akan bisa digunakan jika hanya dipajang saja dan tidak dipakai. Semakin lama terletak dia akan semakin berkarat. Pada akhirnya senapan tersebut tidak akan bisa lagi melontarkan amunisi. Begitu juga dengan buku yang kita baca. Ilmu yang dipelajari tersebut tidak akan berguna jika tidak dikeluarkan dari otak kita. Kita harus menembakan “amunisi” yang tersimpan di dalam kepala kita.

Tidak jauh berbeda dengan cara perakitan kelompok. Di sebagian perguruan tinggi atau sekolah masih banyak pustaka yang masih belum memenuhi kebutuhan mahasiswa/siswa. Memang ada sebagian mahasiswa/siswa yang masih kurang minatnya untuk membaca. Namun di balik itu kita juga tidak bisa mengklaim kekurangan itu sebagai sifat pemalas. Kadang ada alasan yang menyatakan mereka tidak menemukan buku yang dicarinya. Berarti kekurangan ini disebabkan oleh kurang matangnya perakitan dalam sebuah kelompok, institusi atau perguruan tinggi.

Hal tersebut merupakan tanggungjawab perguruan tinggi atau sekolah untuk lebih memaksimalkan keberadaan pustaka. Bukan untuk bahan pelengkap lembaga pendidikan saja. Salah satu faktor yang mendukung baik atau buruknya sumber daya manusia di perguruan tinggi atau sekolah adalah bagaimana memanfaatkan pustaka sebagai bahan referensi belajar dan mengajar, di samping bahan referensi lainnya.

Pelajar juga harus peka dengan keberadaan pustaka sebagai sarana penunjang ilmu. Kebiasaan yang kita lihat selama ini pelajar selalu membaca ketika akan menempuh ujian saja. Untuk kebutuhan ujian, sedikit banyaknya tentu saja akan terpenuhi. Namun yang dipelajari samalam suntuak itu tidak akan bertahan lama di kepala. Karena tujuan kita membaca adalah untuk menghadapi ujian, tapi bukan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Seiring dengan lajunya perkembangana teknologi, buku bisa kita dapatkan di dunia maya, yang dikenal dengan e-book. Banyak pelajar yang mencari e-book di internet jika tidak mendapatkannya di pustaka. Selain proses untuk mendapatkannya lebih praktis, kita juga tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan sebuah buku. Tentu saja masih ada keterbatasan dan kekurangan mengunduh buku di internet.

Berbagai macam artikel pengetahuan sangat banyak tersebar di internet. Namun kita harus hati-hati dan cermat juga memilih artikel untuk referensi. Karena ada di antara banyak artikel tersebut yang tidak memiliki referensi juga dalam penulisannya dan asa-asalan. Teknologi telah mempermudah kehidupan manusia di bidang apa saja. Hanya tinggal satu alasan untuk tidak membaca yang harus kita tumbangkan, malas.

Ledakanlah pikiran anda dengan banyak membaca buku dan referensi lainnya. Ledakan itu akan merubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih berderajat karena ilmu. Indonesia masih banyak butuh orang-orang peka terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Mari merakit “bom” buku!.

Penulis: Adil Wandi
http://adilwandi.wordpress.com/

Kategori:Opini Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: