Beranda > Opini > “Komputer Rusak”

“Komputer Rusak”


Ibarat sebuah komputer, kampus kita perlu discan dari virus yang merusak kinerja. Apalagi untuk sebuah usaha warnet. Peforma dan hardwarenya pun perlu diperhatikan. Selalu mengupdate software dan menjaga hardware merupakan jalan terbaik agar sistem komputer tetap bagus, dan pelangganpun tidak lari. Tak jauh beda dengan kampus kita.
Seseorang pasti akan panik jika komputernya terinfeksi virus. Virus begitu cepat menyebar dan bisa merusak sistem. Jika sistem sudah rusak tentu saja komputer akan berjalan lamban. Bahkan bisa menyebabkan beberapa program tidak akan bisa berfungsi. Fatalnya lagi, komputer akan mati tagak ketika kita menjalankan program atau mungkin sedang browsing. Bagi user atau pelanggan yang bisa mengontrol diri maka dia akan mencari solusi, mungkin bertanya pada operator. Tapi mereka yang emosi, umpatan dan caci maki akan keluar dari mulutnya, dan mungkin juga akan membanting komputer tersebut. Virus memang meresahkan.
Sepertinya komputer kita sedang diserang virus. Apalagi peforma yang kurang bagus membuat sistem dan pelayanan tidak lagi berjalan lancar. Seringkali program yang akan dijalankan terasa lamban bahkan ditolak oleh sistem. Banyak user yang menjalankan program untuk kepentingan akademik merasa kecewa dengan kualitas sistem komputer kita. Padahal basic komputer kita merupakan kualitas yang baik sebenarnya. Tapi karena pengelolaan yang kurang bagus maka seperti inilah keadaannya. Lihat dan cermatilah, banyak file yang corrupt.
Virus bisa menyerang dan merusak file apa saja di dalam komputer. Idealnya seorang “operator” harus tahu tentang seluk beluk dan istilah-istilah dalam dunia komputer. Jangan bekerja hanya sekedar panjawek tanyo apalagi lalai. Pemilik warnet bisa memecat anda.
Banyak hal yang harus kita pelajari dalam dunia “komputer” ini. Dalam istilah komputer, ada yang namanya bletcherous yang merupakan sesuatu yang tidak berfungsi akibat dari rancangan yang kurang bagus. Hal itu terjadi pada komputer kita, ada beberapa program yang tidak berfungsi dengan semestinya. Seperti aplikasi uang PKA yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan mahasiswa. Kebanyakan prakteknya adalah apa yang sudah diketahui banyak mahasiswa. Ini akibat dari rancangan yang tidak bagus. Persoalan jurusan Bahasa dan Sastra Inggris juga merupakan bletcherous. Jurusan tersebut juga tidak berfungsi lagi akibat rancangan yang kurang bagus. Akhirnya semua file dan user harus dipindahkan ke unit yang lain. Tapi karena handshake, yaitu mekanisme atau sinkronisasi dua program ini tidak berjalan dengan baik, maka proses transfer inipun agak lamban.
Seorang “operator” mestinya memiliki cookbook, yaitu buku-buku yang berisi panduan yang dapat dipakai untuk mengembangkan sebuah program komputer. Supaya komputer tidak seperti katak dalam tempurung. Merasa bangga dengan diri sendiri. Padahal di luar sana masih banyak yang lebih dari kita. Walaupun kita memiliki komputer yang terbesar di Sumatera Barat, namun besarnya ukuran tidak menjamin peforma yang bagus. Mungkin kita adalah komputer generasi kedua atau ketiga yang berukuran besar tapi kerjanya tidak seberapa. Dibandingkan dengan kondisi sekarang komputer tersebut tidak efektif lagi untuk digunakan. Sekarang orang telah beranjak kepada laptop, notebook dan iPad yang berukuran kecil tapi memiliki kinerja yang bagus. Jadi apakah kita akan bertahan dengan komputer jadul yang rusak ini.
Satu lagi yang harus kita perhatikan, yaitu port USB komputer. Apakah berjalan dengan baik atau tidak. Ini tentu saja berguna untuk take and give. Kita bisa saling tukar file (pikiran) dengan dengan komputer (kampus) yang ada di luar sana. Biasanya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sering memakai port USB untuk menyambungkan flash disk yang datang dari luar. Karena port USB rusak maka banyak flash disk yang tidak terdeteksi oleh sistem. Komputer kita tidak begitu respon terhadap apa yang masuk dari luar melalui UKM. Komputer sering kali menganggap itu sebagai malware atau sebuah piranti lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem. Atau mungkin akan membuang “space” di harddisk. Maklum, komputer jadul dengan kapasitas harddisk 64MB dengan ukuran sebesar lemari kain.
Sudah saatnya kita mengganti komputer rusak ini dengan yang lebih baik. Supaya pelanggan di warnet kita bertambah ramai. Saat browsing merekapun merasa asyik karena kita sudah memiliki akses yang cepat. Keluar dari warnet mereka tidak merasa kecewa, karena mendapatkan apa yang diinginkan. Uang yang keluarkanpun tidak sia-sia.

Penulis: Adil Wandi

Kategori:Opini Tag:,
  1. 22 April 2013 pukul 2:28 PM

    Greate pieces. Keep posting such kind of information on your blog.
    Im really impressed by your site.
    Hello there, You’ve performed a great job. I will certainly digg it and personally suggest to my friends. I’m confident
    they will be benefited from this site.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: