Beranda > Falsafah > Teopuitik: Relasi Estetis Makhluk dan Khalik

Teopuitik: Relasi Estetis Makhluk dan Khalik


Teopuitik awalnya saya temukan di atas bus kota. Beberapa jam sebelumnya, saya sempat membaca buku “Menyingkap Rahasia Yang Tersembunyi” karangan Annemarie Schimmel yang bercerita tentang rahasia yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa puisi para pencari dan pecinta Tuhan (Sufi). Keriuhan bus kota dengan penumpang yang beraneka dan ini merupakan ciri khas kota saya. Setiap hari bus kota berpacu. Setiap hari itu pula, orang yang menaikinya berganti. Mereka tentu sedang bergerak ke arah tujaun masing-masing.

Tanpa sadar, ini menjadi peristiwa puisi dan saya mulai mencoba membuatnya dalam otak saya. Tapi puisi itu belum saya tulis, sebab pikiran saya justru diusili oleh pertanyaan, mengapa puisi masih [harus] ditulis? Apakah hubungan puisi dengan manusia; dan apa pula hubungan puisi dengan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini barangkali sudah tua. Akan tetapi mendiskusikannya kembali, dalam hemat saya, bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman. Sebab, siklus wacana perpuisian Indonesia, terutama di Sumatera Barat, akhir-akhir ini kembali mengkhawatirkan integrasi puisi dengan masyarakat dan yang lebih memprihatinkan koneksi puisi dengan Tuhan.

Menengok literatur Islam, jauh sebelum Muhammad lahir, tradisi berpuisi (bersyair) di suku-suku Arab sudah mendarah daging. Sepanjang perkembangannya, syair bagi mereka hanyalah ekspresi sakit hati, rindu, cinta yang tercipta dari interaksi humanis mereka. Yang tak kalah penting, syair bagi mereka adalah ungkapan paling sakral, terutama digunakan untuk mantra atau ucapan dalam ritual keagamaan.

Realitas ketuhanan yang kemudian dilewati al-Hallaj (9-10 M/3-4 H) justru menimbulkan diskursus baru dalam hal relasi agama dan kekuasaan. Capaian spritual al-Hallaj yang matang, ketika bersinergi dengan framework kekuasaan, akan menjadi mentah kembali. Konsekuensi hukum yang diciptakan untuk stabilisasi interaksi kemanusiaan dan ketuhanan akhirnya menjerat al-Hallaj hingga mengakhiri hidupnya di tiang gantungan. Ini semakin mencengangkan, sebuah ungkapan yang secara verbal hanya berupa kata-kata, seperti yang diungkapkan al-Hallaj kepada Tuhannya, bisa berakibat kehilangan nyawa.

Dari realitas sejarah inilah ditemukan struktur bangunan Islam yang tidak hanya syariah, akhlak, muamalah, tapi juga tasawuf. Dalam tasawuf ekspresi tertinggi cinta terhadap Tuhan diabadikan sebahagian dengan tingkah laku dan sebahagian lagi oleh kata-kata atau puisi. Lahirlah tokoh-tokoh sufi yang mengekspresikan cinta pada Tuhan dengan balutan kata-kata atau syair yang menggugah hati dan menelanjangi akal. Banyak contoh untuk disebutkan selain al-Hallaj di atas juga ada diantaranya Jalaluddin Rumi dan Fariduddin Attar.

Karya Divan-e Shams-e Tabrizi adalah pernyataan cinta sang murid (Jalaluddin Rumi) kepada sang guru (Syamsuddin Tabrizi) yang hilang secara tiba-tiba setelah memberikan ‘cinta Tuhan’ kepada Rumi. Diwan adalah semacam sajak-sajak pujian seperti kasidah dalam sastra Arab. Dalam sastra sufi dan keagamaan yang dipuji ialah sifat, kepribadian, akhlak, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang tokoh. Dalam bunga rampainya ini, Rumi mulai mengungkapkan pengalaman dan gagasannya tentang cinta transendental yang diraihnya pada jalan tasawuf. (Abdul Hadi W. M. 2006, xvii).

Mantiq al-Tayr adalah pengalaman spiritual Attar dalam upayanya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mengalahkan nafsu rendah. Secara simbolik bahwa jalan kerohanian dalam ilmu Tasawuf ditempuh melalui tujuh lembah (wadi), yaitu: lembah pencarian (talab), isyq (cinta), makrifat (ma’rifah), kepuasan hati (istighna), keesaan (tawhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr) dan hapus (fana’). (Abdul Hadi W. M. 2004, 137).

Mengapa puisi [masih] harus ditulis?
Atas dasar apa sebuah puisi lahir? Kenapa puisi memiliki kekuatan untuk orang menyelami maknanya dari kata perkata? Kenapa al-Qur’an mampu menggeser puisi Arab jahiliyah yang begitu mempesona masyarakat saat itu?

Dalam Islam segala sesuatu dirangkai dalam rangkaian keutuhan yaitu tauhid. Tauhid kemudian diaplikasikan oleh kehidupan yang dijalani oleh muslim. Dalam perjalanan kehidupannya kadangkala ia tergelincir dalam perbuatan-perbuatan yang tak terkait dengan keTuhanan sehingga menyebabkan ia jauh dari Tuhan. Ada beragam cara untuk menggugah kesadaran berketuhanan ini dan di antara sekian cara yang dipilih adalah puisi. Dan dalam tulisan ini dikenal istilah teopuitik.

Mengartikan teopuitik bisa didekati dengan melihat karakterisasi puisi yang berisikan ajakan yang menyentuh kemanusiaan untuk dilihat kembali dalam bingkai keilahian atau ketuhanan. Puisi bukan lagi sekedar tuturan kata yang dirangkai dapat dijadikan kritik sosial, politik, hukum dan aspek lainnya yang terkait dengan manusia atau dapat juga dikatakan sebagai upaya untuk mendekatkan kata-kata kepada realitas. Contoh yang dapat diambil dalam mendekatkan kata-kata kepada realitas adalah puisi Emha Ainun Nadjib;

Sekolah
Seribu sekolah/ Seribu universitas/ Tak paham manusia/ Seribu ilmu/ Seribu pengetahuan/ Salah memandang dunia

Akan tetapi berbeda dengan teopuitik, ia muncul dikarenakan puisi-puisi yang ada saat ini sangat kurang untuk mendekatkan Tuhan kepada realitas. Atau mendekatkan kata-kata kepada Tuhan dan nurani. Teo diartikan dengan Tuhan atau ketuhanan sedangkan puitik disamakan dengan puisi.

Bukankah pengalaman puitik adalah penghayatan terdalam dan mencekam seluruh daya keinsanan seorang penyair, yang dicarikan bentuknya dalam rupa kata-kata (puisi) yang di rangkai dengan diri (manusia), Tuhan dan alam? Bahwa ketika manusia menjauh atau menjarak dari Tuhan dalam rupa kata-kata (puisi) tidakkah itu tanda bahwa si manusia menjauhi Tuhan dari realitasnya sebagai khaliq yang menciptakan makhluk. Lalu apa arti penting di hadirkan Tuhan dalam rupa kata-kata (puisi).

Pembacaan atas teopuitik adalah seperti salah satu sajak Ismed Nasir: Dalam syair ada kata, dalam kata ada makna, dalam makna: mudah-mudahan ada Kau (Tuhan). (Afrizal Malna, 2000: 42).

Para-para penyair seperti Hamid Jabbar dengan puisinya “Sebelum Maut Itu Datang, Ya Allah” dan “Doa Terakhir Seorang Musafir”; Sutardji Calzoum Bachri dengan “Berdepan-depan dengan Ka’bah”, Acep Zamzam Noor, Ramadhan KH, Zawawi Imron, adalah sekian contoh penyair yang dapat dikategorikan sebagai penyair yang sudah tergoda oleh estetika teopuitik. Bahkan seorang Kuntowijoyo dengan pencapaian puisinya dikategorikan teoputik;

Makrifat Daun, Daun Makrifat
Makrifat sungai pohon/Makrifat bunga mawar/Makrifat batu-batu/merangkai tasbih danau/melebur danau jadi kemilau/melebur ruh jadi aku/melebur aku jadi nafas-Mu

Dunia kepenyairan tak hanya semata sebagai rupa kata-kata (puisi) dalam manifestasi realitas sosial, pun bukanlah semata gambaran dunia kreativitas. Lebih dari itu, ia mesti tidak menjauh dari Tuhan sebagai khaliq yang awal mula memberikan kata-kata pada makhluk. Barangkali inilah dari sekian banyak khazanah ketuhanan yang menjadi implementasi dari surat al-Qalam (pena) dengan sepatah ayat yang fenomenal: Iqra’.

Kecerdasan membaca dan meramu kata-kata yang berperikemanusiaan dan berperiketuhanan pada akhirnya menjadi sesuatu yang niscaya dimiliki oleh penyair, jika ia tidak ingin dikatakan “tidak ada”. Kedua istilah ini dalam konstelasi keislaman, dikembangkan dengan dua instrument: hablu minallah (hubungan dengan Allah) dan hablu minannas (hubungan dengan manusia). Konklusinya, jika kedua instrumen tersebut tidak diapresiasi secara mendalam oleh seorang penyair, maka pada tingkat pencapaian, karyanya akan berjarak dari manusia dan yang lebih fatal mennjauh dari tuhan. Di sinilah letak arti teopuitik.

Merujuk kepada kekinian, terutama di Sumbar, tertumpang sebuah pertanyaan: adakah dunia kepenyairan Sumatera Barat dewasa ini melahirkan atau setidaknya mengapresiasi puisi-puisi yang teopuitik? Jawabannya tentu tidak mungkin terjabarkan secara detail kalau hanya melalui tulisan yang singkat ini. Jawabannya tentu akan terpapar dalam geliat karya penyair terkini daerah ini. Perlu ada studi lebih dalam. Agar tidak muncul asumsi miring tentang kecenderungan menulis puisi bernuansa “Tuhan” mirip prosesnya dengan penciptaan lagu-lagu atau sinetron religius yang diproduksi habis-habisan pada bulan Ramnadhan saja.

___________________________________________________________________________________________
*Penulis adalah Sekretaris Eksekutif Magistra Indonesia (Majelis Sinergi Islam dan Tradisi) dan alumni Jurusan Aqidah Filsafat.
Tulisan ini telah dimuat di Koran Padang Ekspres

Kategori:Falsafah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: