Beranda > Falsafah > Hermeneutika: Upaya Mempertautkan Turats dengan Hadatsah

Hermeneutika: Upaya Mempertautkan Turats dengan Hadatsah


Widia Fithri, M.Hum

Widia Fithri, M.Hum

Berasal dari Barat dan muncul dalam lingkungan Kristen adalah dua hal disamping banyak alasan lain untuk menolak  hermeneutika di dunia Islam. Ugi Suharto (2003: 20) menjelaskan hermeneutika bukanlah istilah yang netral dan tidak memiliki pandangan hidup (world view, weltanschauung). Hermeneutika  bermula dari makna bahasa kemudian menjadi makna teologi dan selanjutnya berubah  menjadi makna filsafati. Hermeneutika dilatarbelakangi oleh adanya usaha para teolog baik Yahudi dan Kristen untuk memahami teks-teks Bible. Persoalan yang mengemuka pada hermeneutika Bible yakni pertanyaan mengenai apakah secara harfiah Bible itu bisa dianggap kalam Tuhan atau perkataan manusia.

Realitas yang tidak dapat dipungkiri dewasa ini,  diantara  pemikir Islam kontemporer justru mengembangkan dan menerapkan  konsep hermeneutika dalam rangka merangkai, mempertemukan serta mendialogkan warisan keilmuan Islam (turast) dengan perkembangan keilmuan kontemporer (hadatsah) seperti Fazlur Rahman, M. Arkoun, Hasan Hanafi, Muhammad Sharur, Khaled M. Abou El Fadl dan lain-lain. Kegelisahan akademik mereka sesungguhnya mengarah pada Paradigma Keilmuan  Islam terutama Fiqh dan Kalam. Fiqh dan implikasinya pada tatanan pola pikir dan pranata sosial yang dihadirkan  dalam kehidupan muslim dianggap terlalu kaku sehingga kurang responsif terhadap tuntutan dan perkembangan jaman, khususnya hal-hal yang terkait dengan hudud, hak azazi  manusia, hukum publik, wanita dan pandangan tentang non muslim. Keilmuan Fiqh belum berani dan masih menahan diri untuk bersentuhan dan berdialog langsung dengan ilmu-ilmu baru yang muncul abad ke 18 dan 19 seperti antropologi, sosiologi, budaya, psikologi, filsafat termasuk hermeneutika.

Dalam pandangan Amin Abdullah ( 2003: VII)  kajian kritis keagamaan di dunia Islam lewat pendekatan hermeneutik memang tidak begitu populer dan malah cendrung dihindari. Jangankan menggunakannya, mendengar kata tersebutpun orang sudah antipati. Berbagai konotasi yang ditempelkan pada hermeneutik seperti relativisme atau pendangkalan aqidah.  Apa sesungguhnya persoalan  yang mendasar dalam perbincangan hermeneutika? Kenapa sebagian pemikir Islam kontemporer begitu ingin mendialogkan dan mempertemukan perbincangan keilmuan Islam dengan ilmu-ilmu kontempore termasuk hermeneutika?

Pertanyaan mendasar dalam hermeneutika adalah bagaimana hubungan   antara teks (text) atau nash, penulis atau pengarang (author) dan pembaca (reader) dalam dinamika pencarian makna teks. Bagaimana mekanisme atau cara kerja mengeluarkan makna teks yang secara waktu, tempat dan personal jauh dari sipembaca? Kompetensi serta kemampuan seperti apa yang harus dimiliki oleh seseorang atau lembaga  untuk dapat mewakili arti sebenarnya dari sebuah teks. Dalam perbincangan hukum Islam, apakah yang menjadi dasar sebuah institusi keagamaan berani mengatasnamakan diri atau lembaga sebagai pemegang tunggal penafsiran  dan sekaligus pelaksana perintah Tuhan? Alat uji shahih seperti apa  yang diperlukan untuk menguji validitaas keshohihan klaim otoritas ketuhanan yang melekat pada fatwa-fatwa  keagamaan? Mengapa dalam praksis keagamaan Islam era modern  seringkali muncul fenomena umum yang disebut otoritarianisme. Dengan pernyataan lain menggunakan kekuasaan Tuhan (author) untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang pembaca (reader)  untuk membenarkan dan menginterpretasikan teks ( text). Tindakan ini  diikuti oleh pelaksanaanya dalam kehidupan publik yang seakan-akan menepikan begitu saja jenis pemahaman dan interpretasi pihak lain dalam dinamika percaturan dan pergumulan fatwa keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat secara luas.

Pemahaman keislaman dewasa ini memerlukan model penafsiran teks yang lebih menyegarkan, lebih kreatif dan akomodatif. Menurut Umberto Eko yang dikutip  Khaleed Aboul Fadl (2004: 13) bahwa teks-teks yang bersifat terbuka  sesungguhnya bekerja pada level  pemunculan gagasan dan perangsangan aktivitas penafsiran yang konstruktif, sedang teks-teks tertutup  bertujuan untuk menentukan dan membatasi aktivitas penafsiran pembaca secara ketat. Pemahaman teks harus  merupakan produk interaksi yang hidup antara pengarang (author), teks (text) dan pembaca (reader).  Sesungguhnya ketiga komponen tersebut memainkan peran  dan interaksi yang hidup  dan dinamis. Hal ini bertujuan agar terjadi proses penyeimbangan diantara berbagai muatan kepentingan yang dibawa oleh masing-masing pihak dalam proses negosiasi yang terus menerus dan tidak pernah berhenti.

  1. A.    Mengenal Hermeneutika

Keberadaan hermeneutika sesungguhnya setua umur manusia, tetapi hermeneutika filsafati  ternyata baru dirintis dalam pemikiran Friedrich Schleiermacher ketika masalah pemahaman diangkat menjadi masalah spesifik. Friedrich Schleiermacher membuka perpektif baru tentang keterbatasan proses pengeluaran arti di dalam pikiran manusia yang terpusat pada obyek-objek fisikal.

Hermeneutika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan. Hermeneutika merujuk pada tokoh mitologis Yunani bernama Hermes yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia.  Hermes bertugas menerjemahkan pesan dewa di gunung  Olympus ke dalam bahasa yang bisa dipahami manusia. Dengan demikian tugas Hermes sangat penting sebab jika terjadi kesalahan dalam memahami  pesan dewa, akibatnya akan fatal untuk  umat manusia. Hermes harus mampu menerjemahkan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang mempunyai misi. Misi tersebut akan sangat tergantung pada bagaimana pesan  disampaikan (Sumaryono, 1999: 23-24). Dengan demikian hermeneutika mengasumsikan sebuah proses membawa sesuatu untuk bisa dipahami dengan  melibatkan bahasa sebagai media. E. Palmer (2005 :15) menjelaskan bahwa mediasi dengan  membawa sebuah pesan yang diasumsikan pada Hermes memiliki  tiga makna dasar yakni 1) mengungkapkan kata-kata ( to say),  2) menjelaskan ( to explain) 3) menerjemahkan (to interpret). Dari segi makna terminologis dapat dikatakan bahwa hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu dari situasi dan makna yang tidak diketahui menjadi dimengerti. Mengerti sesuatu  tidaklah mudah, banyak hal yang mempengaruhi proses terjadinya mengerti.

Heremeneutika dalam  terminologi klasik mengacu pada tulisan Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De interpretatione yang menjelaskan bahwa kata-kata yang diucapkan sesungguhnya merupakan simbol dari pengalaman mental manusia, dan kata-kata yang ditulis merupakan simbol  dari kata-kata yang diucapkan. Seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulis dengan orang lain, demikian juga halnya dengan bahasa ucapan tidaklah sama antara satu orang  dengan yang lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman mental yang disimbolkannya  adalah sama untuk semua orang, seperti juga pengalaman-pengalaman imajinasi seseorang untuk menggambarkan sesuatu.

Hermeneutika  muncul pertama kali dalam kerangka kitab suci Al Kitab. Pengertian ini diperkenalkan oleh JC Dannhauer.  Tradisi ini dapat dilihat dalam sejarah pemikikiran teologi Yudeo Kristiani.  Keterbatasan hermeneutika teologis dan hermeneutika linguistik historikal membawa Freidrich Shleirmacher mengkonsepsikan hermeneutika sebagai suatu masalah prinsipil bagi “Die Rede” yakni discursus semua pikiran yang diungkapkan  ke dalam    tanda-tanda lisan atau tertulis dalam usaha menghindari kesalah pahaman. Sedangkan W. Dilthey meletakkan hermeneutika sebagai disiplin inti  yang dapat berfungsi sebagai dasar bagi semua disiplin   yang terpusat pada pemahaman karya   manusia (Poespoprojo, 1985: 7). Kedua tokoh diatas menegaskan bahwa hermeneutika sesungguhnya menaruh perhatian pada persoalan pemahaman subjektifitas manusia. Hermeneutika dari kedua tokoh diatas mengalihkan perhatian dari sebelumnya bersifat teologis kepada persoalan antropologis.

Hermeneutika yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi keilmuan Barat Modern, secara epistemology dikenal  sebagai metode untuk ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) sebagai timbangan  dari metodologi keilmuan  positivisme yang sering dipakai untuk ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften).  Positivisme mendasarkan keilmuannya pada sesuatu yang empiris, eksak, nyata, terukur, dan dapat  diterangkan (Erklaren). Sedangkan Hermeneutika lebih mengembangkan model pemahaman untuk ilmu-ilmu kemanusiaan yang lebih unik, tidak tetap, subjektif yang cendrung untuk dipahami ( Verstehen).

Struktur dasar hermeneutika yang   terdiri dari  teks (text), pengarang (author), dan pembaca (reader)  mengandaikan bahwa pembaca tidak bertemu (tidak punya akses langsung kepada si pengarang) karena perbedaan ruang, waktu dan tradisi. Demikian juga pengarang tidak mengenal akan sipembaca.

Keberjarakan tersebut membuat teks memerlukan langkah dalam memahaminya. Teks dalam bentuk tertulis sesunguhnya berusaha melanjutkan peristiwa dalam bentuk wacana lisan. Teks dianggap dapat melestarikan peristiwa atau mendokomentasikan pesan.  Teks yang bercerita tentang masa lalu dapat dibaca untuk masa depan. Ricoeur berpendapat teks adalah sebuah wacana yang dibakukan lewat bahasa. Wacana dilanggengkan lewat tulisan, karena pembakuan lewat tulisan merupakan ciri konstitutif dari teks itu sendiri (Ricoeur, 1991: 106). Perkataan dan tulisan merupakan dua pilihan dan bentuk perwujudan diskursus yang sama-sama sah. Dalam menjelaskan makna teks, Ricoeur memulai penjelasan bahwa tulisan merupakan tambahan dari peristiwa ucapan. Jadi apa yang terbakukan lewat teks adalah diskursus yang memang dapat diucapkan namun dia ditulis karena tidak diucapkan lagi. Jadi pembakuan melalui tulisan menempati posisi ucapan. Implikasi dari pemahaman ini adalah bahwa sebuah teks akan menjadi teks yang sebenarnya bila teks tidak hanya terbatas untuk memproduksi ujaran kembali. Teks bagi Ricoeur tidak dapat disamakan begitu saja dengan  tulisan. Terdapat perbedaan diantara keduanya, pertama problem hermeneutika bukanlah muncul dari  tulisan melainkan dialektika antara ucapan dan tulisan. Kedua, dialektika ini dibentuk berdasarkan dialektika penjarakan  yang lebih primitif ketimbang oposisi tulisan dan ucapan (Ricoeur, 2009: 176)

Hermeneutika erat kaitannya dengan bahasa, dimana bahasa merupakan wahana untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan proses mental lainnya.  Interpretasi sesungguhnya terjadi melalui bahasa.  Hermeneutika merupakan   cara baru bergaul dengan bahasa. Selain berkaitan dengan bahasa, hermeneutika juga merupakan kaitan yang juga dekat dengan simbol. Karena simbol merupakan bentuk interpretasi manusia yang mengandung banyak makna. Penyelidikan terhadap bahasa hakikatnya sejajar dengan penyelidikan tentang pengalaman manusia (Poespoprodjo, 1985 : 117).  Melacak kembali ekspresi pengalaman dan pikiran manusia melalui bahasa, akan dapat ditemukan kembali manusia konkrit yang berada di dunia itu. Ekspresi simbolik akan mengatakan sesuatu arti dan mempunyai referensi yang bermakna ganda. Refleksi atas hakekat dan fungsi bahasa pada hermeneutika merupakan  modus keberadaan dan tonggak eksistensi manusia.

  1. A.    Tiga tradisi keilmuan dengan fondasi kebudayaan   yang berbeda

Teks, filsafat  dan ilmu  merupakan basis pengetahuan dalam sejarah panjang  pemahaman  manusia. Ketiganya tumbuh dan berkembang dari  tradisi keilmuan yang berbeda. Teks merupakan inti kebudayaan Islam. Al Qur’an dan Hadits  merupakan pembentuk dasar-dasar tekstualitas Islam yang memuat dasar-dasar pokok teologi Islam. Dalam sejarah  perjalanan  Islam dapat ditemui bahwa adanya hubungan dialektis antara teks dan pemikiran manusia, sehinga memunculkan berbagai macam keilmuan Islam yang mengikuti teks  Al Qur’an dan Hadits seperti Tafsir, Ushul Fiqh, Kalam, Tasawuf dan lain-lain.

Nasr Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa peradaban Arab Islam sesungguhnya merupakan peradaban teks. Hal ini berarti bahwa dasar-dasar ilmu dan budaya Arab Islam tumbuh dan berdiri tegak diatas landasan teks sebagai titik sumbunya. Hal yang sama juga di jelaskan oleh Muhammad Abied Al Jabiri dalam kajiannya tentang Paradigma epistemologi Islam era klasik dintaranya epistemologi Bayani. Epistemologi Bayani adalah paradigma keilmuan Islam yang berbasis pada teks (al Nash) yakni al Qur’an dan Hadits (Choir & Fanani , 2009:184).

Berbeda dengan teks, filsafat merupakan inti kebudayan Yunani yang mengandalkan corak berfikir rasional, kritis dan analitis. Filsafat Yunani telah menorehkan   perubahan pemahaman manusia dari semula yang bersifat mitos kepada pengetahuan yang bersifat rasional. Robert C Solomon (2000:1) menjelaskan para pemikir kreatif mulai menantang melampaui kepercayaan-kepercayaan religius, mitologi dan folklor masyarakat yang sudah mapan. Mereka adalah para filsuf pencari kebijaksanaan. Mereka tidak puas lagi dengan mitos-mitos dan cerita-cerita yang dahulu menarik tentang perseteruan tanah dengan langit, tentang Venus yang muncul dari laut dan Zeus yang melontarkan halilintarnya. Filsafat dulunya tidaklah dapat dibedakan dari ilmu, karena  keduanya merupakan  bentuk  proses berfikir manusia yang rasional tentang realitas di sekelilingnya.

Van Peursen yang dikutip Kunto Wibisono ( 2001: 1) menyatakan dulu orang lebih mudah memberi batasan tentang ilmu pengetahun. Dahulu ilmu pengetahuan identik dengan filsafat. Perkembangan filsafat telah mengantarkan  adanya konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar dan bercabang subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri, maka akhirnya ilmu memisahkan diri dari filsafat.

Ilmu dengan perangkat positivismenya mencatatkan sejarah akan arti pengetahuan yang ilmiah yakni nyata, eksak, terukur dapat diverifikasi dan difalsifikasi. Metode observasi, eksperimentasi dan komparasi yang dipelopori Francis Bacon ( 1561- 1626) telah semakin mendorong perkembangan ilmu pemgetahuan dimana Helmholtz, Pasteur, Darwin, Clerk Maxwell berhasil menemukan hal-hal yang baru dalam penelitian ilmiahnya. Semua itu memberi isyarat bahwa dunia Barat telah berhasil melakukan tinggal landas untuk mengarungi dirgantara ilmu pengetahuan yang tiada bertepi (Wibisono, 2001 : 5). Ilmu terus menerus berevolusi dan  berkembang  mengahasilkan tekhnologi, baik transportasi, telekomunikasi maupun tekhnologi informatika seperti sekarang ini.

Ketiga tradisi keilmuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya dicoba untuk diramu, didialogkan serta dikembangkan  dalam rangka  pengembangan  kajian Islamic Studies di perguruan tinggi. Perspektif hermeneutika  merupakan suatu usaha untuk  mempertemukan dan medialogkan warisan keilmuan Islam yang bertumpu pada teks dengan memanfaatkan perkembangan keilmuan kontemporer.  Kehadiran Hermeneutika sebagai metode pembacaan teks merupakan petarung baru dari model pembacaan teks yang juga sudah berkembang sebelumnya di dunia Islam. Pengayaan atas metode pembacaan tersebut diharapkan akan membawa pemahaman yang dinamis dalam perkembangan pemikiran di dunia Islam.

  1. B.     Hermeneutika : metode analisis teks keagamaan  era Kontemporer

Pesan Tuhan yang tertuang dalam teks al Qur’an sudah selesai disampaikan lewat seorang Nabi yakni Muhammad.  Produksi pemikiran yang berusaha melanggengkannya ( Al Qur’an dan hadits) sudah berkembang dalam bentuk keilmuan Islam seperti tafsir, hadits, kalam, ushul fikih,fikih. Perkembangan pemikiran Islam hari ini ingin mempertemukan semangat pengalaman kemanusian dalam berbagai pembacaan baik yang tersimpan dalam warisan tradisi keilmuan Islam maupun perkembangan keilmuan era kontemporer , termasuk pengembangan berbagai cara pemahaman teks keagamaan menjadi suatu keniscayaan.

Pesan Tuhan yang ada di balik teks bersifat final dan tidak bisa di falsifikasi, namun pemikiran yang mengiringinya bersifat terbuka dan relatif. Apapun bentuk hasil pemikiran manusia, padanya meniscayakan  relativitas kebenaran, maka sakralitas akan pemikiran adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi karena akan mengakibatkan kemandulan dan stagnasi. Eksistensi  filsafat terletak pada kontinuitas dalam merefleksikan realitas yang selalu berubah dengan nalar  kritisnya. Maka filsafat hakikatnya adalah dialog pemikiran antar generasi. Kesadaran inilah yang muncul dari beberapa pemikir Islam kontemporer yang gelisah melihat pembakuan pemikiran Islam era klasik. Pemikir Islam kontemporer yang terdidik dalam dua tradisi yakni tradisi Islam dan tradiri kemodern Barat menginginkan adanya dialog antar kedua peradaban tersebut. Mereka mencoba mencari titik temu dengan mensistesakan kedua  peradaban. Diantara pemikir Islam kontemporer itu adalah :

  1. Fazlur Rahman: pemikir muslim asal Pakistan.  Fazlur Rahman memperkenalkan hermeneutika sebagai upaya pembaharuan metodologi studi Islam.  Teori double movement (gerakan ganda) merupakan sumbangsih Rahman. Dunia Islam menurut Rahman tidak memiliki metode yang memadai untuk memahami  sumber-sumber pokok Islam. Harus diakui secara jujur, bahwa masalah metode ini tidak mendapatkan perhatian secara adil dari para ulama. Dalam pandangan Rahman, al Quran  laksana puncak gunung es yang terapung, sembilan persepuluh dari al Qur’an berada di bawaah lautan sejarah, dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak di permukaan. Sangat perlu untuk mengetahui sejarah Nabi dan perjuangannnya selama kurang lebih 23 tahun, memahami situasi dan kondisi bangsa Arab pada awal Islam serta adat kebiasaan dan pandangan hidup orang Arab.

Dalam bukunya Islam and Modernity, Rahman menawarkan dua langkah (double movement) untuk memahmi al Qu’an. Pertama, orang harus memahami makna penyataan Qur’an dengan mengkaji latar belakang historis ketika sebuah ayat diturunkan. Langkah pertama ini untuk  memahami makna Qur’an sebagai suatu keseluruhan  disampaing terdapat jawaban-jawaban khusus. Langkah kedua adalah mengeneralisasikan  respons-respons khusus dan menyatakaannya sebagi pernyatan-pernyataan moral sosial umum yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik  dan rasio logisnya. Catatan penting dalam model hermeneutika Rahman adalah memahami al Qur’an dari nilai-nilai  moral yang bersifat universal dan bukan berangkat dari keputusan-keputusan hukum yang bersifat spesifik (Rahman, 1995)

  1. M. Arkoun :    seorang intelektual Islam asal Al Jazair dan menetap lebih lama di Perancis. Arkoun merasa bahwa perkembangan keilmuan Islam dalam wilayah kalam, fikih, tasawuf, tafsir maupun hadits telah dibakukan, sehingga diperlukan pengkajian ulang (pembaharuan pemikiran) baik dari segi isi, metodologi, maupun analisis. Pemikiran Islam menurut Arkoun  sangat miskin menggunakan perkembangan keilmuan dan belum membuka diri pada kemodernan sehingga pemikiran Islam tidak mampu  menghadapi tantangan umat Islam kontemporer. Perkembangan keilmuan seperti antropologi, sosiologi, sejarah, semiontik dan lain-lain belum diterima di kalangan kaum muslim. Akibatnnya pemikiran Islam bersifat naif. Ilmu-ilmu sosial modern dikalangan Islam masih dianggap ilmu bantu, bukan ilmu inti. Inilah yang menjadikan keilmuan Islam bersifat melangit dan kering nuansa serta bersifat utopis.

M. Arkoun memasukkan berbagai hasil pengetahuan modern seperti antropologi, sosiologi, sejarah, linguistik, filsafat dan lain-lain untuk menelaah warisan keilmuan Islam. Arkoun berpendapat ilmu-ilmu modern yang berkembang pesat terutama di Barat telah memberi andil untuk memotret dan memetakan kembali keilmuan dan pengalaman manusia dalam segala bidang serta   dapat membantu memahami teks kitab suci  dan teks-teks klasik.

Hermeneutika sebagai ilmu penafsiran berusaha menjelaskan bagaimana sebuah karya dapat dipahami dengan berbagai cara.  M. Arkoun berpendapat bila umat Islam hanya berpegang pada satu cara pembacaan dan penafsiran tertentu, maka umat Islam tidak menyadari kedalaman dan kekayaan isi al Qur’an serta tidak menyadari berbagai kerumitan dalam memahami al Qur’an. Oleh karena itu, perlu dikembangkan cara baru untuk memahami al Qur’an.

Daftar Pustaka

 

Abdullah, Amin, 2003, Pendekatan Heremenutik dalam Fatwa-fatwa Keagamaan, Pengantar dalam buku “ Atas nama Tuhan”, Serambi, Jakarta

Arkoun, M. 1996, Rethingking Islam, terj Yudian W,LPMI, Yogyakarta

Choir, Tholhatul dan Fanani, Ahwan,2009,  Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, Pustaka pelajar, Yogyakarta

Palmer, E.Richard,2005, Hermeneutika, teori baru mengenal Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Poespoprodjo, 1985, Hermeneutika Filsafati, relevansi dari beberapa perspektif bagi kebudayaan Indonesia,UNPAD, Bandung

Khaled, M Aboul Al Fadl,2004, Atas nama Tuhan, Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, Serambi, Jakarta

Rahman, Fazlur, 1995, Islam dan Modernitas, Pustaka, Bandung

 

Suharto,Ugi,  2003, “Apakah Al Qur’an memerlukan Herneneutika”, Majlis Tarjih edisi 6 Juli, Yogyakarta

Simaryono, 1999, Hermenutik : sebuah metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta

Solomon, C Robert dan Kathleen M. Hinggis,2002, Sejarah Filsafat, Bentang, Yogyakarta

Wibisono, Kunto, 2001, “Ilmu Pengetahuan : sebuah sketsa umum mengenai kelahiran dan perkembangannya sebagi pengantar untuk memahami Filsafat”,dalam Filsafat Ilmu, ed. Tim Dosen Filsafat Ilmu , Fakultas Filsafat  UGM, Liberty Yogyakarta

  1. Natsir
    4 Juli 2012 pukul 3:03 PM

    menukil dari perkataan dari M. Arkoun di akhir tulisan di atas, bahwa “bila umat Islam hanya berpegang pada satu cara pembacaan dan penafsiran tertentu, maka umat Islam tidak menyadari kedalaman dan kekayaan isi al Qur’an serta tidak menyadari berbagai kerumitan dalam memahami al Qur’an. Oleh karena itu, perlu dikembangkan cara baru untuk memahami al Qur’an.” pertanyaannya kemudian adalah : bukankah cara memahami sudah di ajarkan oleh ا للہ عزوجل kepada kita(manusia) melalui Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam dengan sunnah beliau? dan di ajarkan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in serta para ulama. Apakah kita memang perlu cara baru untuk memahami al Qur’an? mohon penjelasan dengan dalil sehingga kita bisa paham. jazaakillaah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: